Selamat Datang di Situs akhmadshoim.blogspot.com Cp. 082323989890 e-mail: soimah49@gmail.com

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 05 September 2012

Cinta Istimewa Untuk Orang Yang Luar Biasa


Bai Fang Li Mengayuh Becaknya
BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.
 Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.
Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.
 Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.
 Bai Fang Li
Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.
Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.
Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.
Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.
 Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.
Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.
Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.
Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.
 Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.
Bai Fang Li Ketika Sakit di Akhir Hayatnya
 Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.
Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.
“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.
Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu.  Semua guru di sekolah itu menangis……..
Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (setara 470  juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.
Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Rabu, 29 Agustus 2012

Lindungi Korban Kekerasan Sampang


Oleh: Akhmad Shoim*
Atas nama apapun, kekerasan sangat melanggar hak asasi manusia (HAM) dan merugikan umat manusia. Agama manapun juga mengecam tindak kekerasan terhadap umat manusia. Agama menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, serta toleransi terhadap umat beragama lain.
Kekerasan yang dialami kelompok Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur 26 Agustus yang lalu sangat mengejutkan kita semua. Terlebih kasus tersebut bermuatan agama antara Sunni – Syiah.
Sungguh ironis sekali. Dalam kekerasan itu dua nyawa hilang sia-sia, 27 rumah dibakar, 235 warga mengungsi di gedung lapangan tenis Sampang dengan minim kebutuhan pangan dan kesehatan.
Kasus ini berawal dari permasalahan keluarga sejak 2004 hingga sekarang, yaitu antara Tajul Muluk beraliran Syiah dan Rois beraliran Sunni yang mempunyai masalah pribadi dan tersebar di masyarakat luas. Kejadian pembakaran sudah terjadi pada Oktober 2011 (Kompas:29/8)
Kenapa hal itu bisa terjadi? Penulis berpendapat, ada beberapa kemungkinan terjadinya kekerasan di sampang Madura.
Pertama, dari perspektif sosial. Suku agama dan ras (SARA) sangat sensitif dan rawan menjadikan peperangan jika dimasukkan dalam ranah politik maupun agama. Masalah  (SARA) memang sangat mudah dan seringkali menimbulkan konflik, baik itu konflik internal maupun konflik eksternal.
Dalam konteks ini, ideology Islam Sunny-Syiah dilakukan Tajul Muluk dan jamal sebagai motif dalam pertikaian di Sampang Madura tersebut. Persoalan dan pertikaian yang awalnya kecil, menjadi besar dan menyebar ke SARA sampai ke level nasional.
Kedua, dari perspektif hukum aparat penegak hukum seharusnya sejak dini meredam kasus ini supaya tidak berkepanjangan. Aparat penegak hukum harus tegas dan adil dalam menangani kasus kekerasan yang terjadi.
Pelaku harus dihukum berat supaya tidak lagi terjadi kekerasan terhadap sesama umat muslim.
Kejadian brutal yang dilakukan di Sampang ini menunjukkan Negara gagal melindungi warga. Warga seharusnya mendapatkan hak untuk dilindungi, hak hidup dan keselamatannya sesuai undang-undang. Dalam pembukaan UUD 1945 dituliskan “Negara melindungi segenap tumpah darah Indonesia.
Pemerintah seharusnya secepat mungkin mengevakuasi korban kebrutalan warga yang menghakimi sendiri tanpa melewati jalur hokum yang berlaku. Karena kita hidup di Negara hukum.
Ketiga, dalam perspektif agama. Agama Islam bukanlah agama yang disebarkan dengan kekerasan, karena Allah SWT melarang kaum muslimin dari memaksa orang untuk masuk agama Islam. Apalagi dalam kasus ini melakukan kekerasan terhadap sesama muslim.
Allah melarang membunuh sesama manusia tanpa sebab yang disyariatkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (al-An’âm: 151).
Islam sudah menyediakan seperangkat aturan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan ini agar selamat baik di dunia maupun di akhirat. Ajaran Islam tak hanya mengatur hubungan antara seorang manusia dengan Rabb-Nya (hablum minallah), melainkan juga telah mengatur hubungan antara manusia dengan manusia yang lain (hablum minannaas). Ini merupakan suatu anugrah dan kemudahan bagi manusia.
Penulis berharap, Pemerintah harus melibatkan pemuka agama, aparat penegak hukum, serta tokoh masyarakat baik yang ada di Sampang Madura, ulama Sunni serta ulama Syiah tersebut, guna menyelesaikan kasus ini. Penegakan hukum harus ditegakkan, terlebih perlindungan terhadap komunitas Islam Syiah yang menjadi korban kekerasan.
Satu-satunya jalan agar kemungkinan buruk itu tidak menjadi nyata, pemerintah harus melakukan upaya komprehensif dengan menghentikan konflik yang terus berkembang dan tak terkendali.
Semoga negeri Indonesia ini terbebas dari diskriminasi mayoritas-minoritas dan warga Negara Indonesia bisa hidup rukun, damai dan sentosa di tengah-tengah kemajemukan bineka tunggal ika.
*Litbang SKM Amanat dan Pegawai Sub bagian Humas IAIN Walisongo Semarang.

Minggu, 19 Agustus 2012

Malam Lebaran, Ratusan Remaja Pawai Keliling Desa


Jepara - Ratusan remaja, anak-anak, dan orang tua warga desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, menyambut malam lebaran dengan melakukan pawai keliling desa, Sabtu (19/8).
Gema takbir, tahmid, dan tahlil saling bersautan di segala penjuru desa. dengan semangat warga mebuat arak-arakan replika hewan yang dibuat dari bamboo dibungkus kertas karton.  
Seiring bersama kumandang takbir, warga berduyun-duyun menuju lapangan. Pawai dimulai dari lapangan desa Kedung Malang dengan menggunakan replika burung garuda, spongbob, gajah, dan yang lainnya.
Kemudian, replika tersebut diarak menuju makam Syekh Maulana Maghribi (mbah Sarean) dan mbah Duwok, wali Allah yang berada di Kedung Malang.
Kegiatan dilanjutkan dengan tahlilan bersama para warga dipimpin sesepuh desa. Selesai pawai mereka menuju masjid kedung guna melaksanakan takbir bersama.
Lurah Kedung Malang, Bambang mengatakan, kegiatan pawai keliling desa ini dilakukan rutin setiap tahun untuk menyemarakkan peringatan hari raya idul fitri.
“Biasanya pawai disertai dengan boneka replika yang dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu hias,” paparnya.
Ahmad Shoim, salah satu peserta pawai menambahkan, peringatan hari raya lebaran ini sekaligus memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia yang ke 67.
“Pawai yang kami lakukan ini guna memperingati hari raya idul fitri 1433 H, sekaligus peringatan HUT RI ke 67. Dalam membuat boneka replica, para remaja iuran seikhlasnya sesuai dengan kadar kemampuan. Uang hasil iuran ini yang nantinya akan digunakan untuk membuat boneka tersebut,” tandasnya.
Perayaan ini, tambah Shoim, bertujuan meningkatkan jiwa nasionalisme dan gotong royong sesama warga. Para remaja di desa kami sangat antusias setiap kegiatan pawai lebaran yang merupakan kegiatan rutin yang dilakukan remaja di desa kami ini.

Selasa, 31 Juli 2012

Encouragement


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)
Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI.

Kontribusi Kampus untuk Masyarakat Islami


KUNTOWIJOYO (2004) membagi periodesasi Islam dalam tiga tahap, yaitu Islam sebagai mitos, ideologi, dan ilmu. Saat ini, mestinya kita sudah memasuki tahapan ketiga. Pada tahap ketiga atau periode ilmu, terjadi aktivasi objektifikasi menuju ”Islam sebagai rahmat untuk semua”.  
Dalam periode ini, Kuntowijoyo menandaskan perlunya objektifikasi Islam, yakni konkretisasi dari sebuah keyakinan yang apabila terealisasi dalam perbuatan akan dirasakan oleh orang nonpemeluk Islam sekalipun sebagai sesuatu yang natural atau sewajarnya, bukan sebagai perbuatan keagamaan. Namun dari sisi ”pelaku”,  tetap merasa bahwa hal tersebut sebagai perbuatan keagamaan atau amal ibadah.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan, ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama amalan tanpa ilmu merupakan kesia-siaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal dan meminta dikembalikan lagi ke dunia setelah mati, seperti firman Allah SWT dalam QS As-Sajdah ayat 12, yang berbunyi; ”...Wahai Tuhan kami, kami telah melihat kebenaran di hadapan kami, kami telah mendengar dengan sejelas-jelasnya (akan perkara yang dahulu kami ingkari); maka kembalikanlah kami ke dunia lagi agar kami bisa mengerjakan perkara yang baik-baik. Sesungguhnya kami sekarang telah yakin.î
Tentu saja itu tak akan terjadi karena kita sudah telanjur mati. Untuk itu, kita harus memanfaatkan hidup di dunia ini sebaik- baiknya dengan menuntut ilmu dan beramal, menjauhi sikap berbangga-bangga dengan amal, padahal mungkin ilmunya tidak kita miliki. Jika kita jujur, dari semua ilmu yang telah kita miliki ternyata sangat sedikit yang kita manfaatkan dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kontribusi Kampus
Lantas, apa peran dan kontribusi kampus pada masa kekinian? Kampus —universitas atau perguruan tinggi— semestinya bisa menjadi provider bagi keberlangsungan Islam sebagai ilmu. Tidak hanya kampus yang berbaju Islam seperti institut atau sekolah tinggi Agama Islam yang juga kini berubah menjadi Universitas Islam saja, melainkan juga bagi kampus-kampus  yang tidak secara khusus mengkaji agama Islam.
Berbagai kajian, penelitian, workshop, diskusi, perdebatan, bahkan pergulatan pemikiran mengenai Islam sebagai ilmu sudah sepantasnya dilakukan di kampus tanpa tekanan dari birokrasi, negara, maupun kepentingan tertentu. Maraknya kegiatan keagamaan Islam di kampus, termasuk dalam hal ini kajian Islam sebagai nilai-nilai universal, perlu didorong menjadi sesuatu pemahaman bahwa Islam bisa diterima semua orang, baik muslim maupun nonmuslim.
Dengan cara inilah, Islam secara instrinsik termanifestasi dalam perilaku sehari-hari kehidupan. Kampus harus berperan sebagai media bagi siapa pun untuk menuntut ilmu yang  tidak terbatas, sehingga intellectual curiousity masyarakat senantiasa tumbuh dan berkembang. Masyarakat saat ini sudah semakin haus akan ilmu pengetahuan dan kampus seharusnya semakin memberi dorongan.
Namun, bukan berarti berbagai kajian ilmiah keislaman tersebut bebas nilai. Di sinilah perlunya pemahaman ilmuwan kampus bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial. Apa gunanya penelitian dan pengkajian ilmiah keislaman di kampus dilakukan jika tidak bermanfaat bagi masyarakat? Sebaliknya dan yang terpenting adalah, bagaimana menjadikan berbagai penelitian dan pengkajian keislaman di kampus memiliki kepekaan sosial dengan kebutuhan masyarakat luas.
Kajian keislaman kampus harus berusaha meneguhkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamiin). Apabila tri dharma perguruan tinggi sudah maksimal dilakukan oleh civitas akademika, niscaya kampus akan menjadi kawah candradimuka bagi para calon cerdik dan pandai yang berwawasan keagamaan yang luas sekaligus memiliki kepekaan sosial tinggi.
Untuk menuju ke sana, tantangan saat ini sangat besar, yakni berhadapan dengan merebaknya sikap individualistik, materialistik, maupun hedonistik sebagai dampak global. Namun, apakah kita akan berdiam diri? Tentu saja tidak, karena selama kampus masih dimiliki oleh para kaum cerdik pandai yang memiliki hati, niscaya berbagai dampak di atas insyaallah bisa diatasi.  (43)
– Prof Dr Ravik Karsidi MS, Guru Besar Sosiologi Pendidikan dan Rektor Universitas Sebelas Maret

Minggu, 15 Juli 2012

MENGEMBALIKAN CITRA KEMENTRIAN AGAMA


Oleh: Akhmad Shoim*
Citra Kementrian Agama kembali tercoreng lagi, setelah kasus Maret tahun 2003 dugaan korupsi Rp. 116 miliar di Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Islam Kementrian Agama (Kemenag).
Komisi pemberantasan korupsi (KPK) sepekan lalu, menangkap tersangka Zulkarnaen Djabar pada kasus proyek penggandaan Al-Quran di Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama pada 2011 – 2012. Zulkarnaen adalah politikus Golkar di komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi agama sejak 2004.
Selain Zulkarnaen, anaknya yang bernama Dendy Prasetya, Direktur PT Karya Sinergi Alam Indonesia, juga sebagai tersangka, dia juga menyetir pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam guna memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pemenang proyek. Keduanya diduga menerima suap Rp. 4 Miliar dari proyek pengadaan Al-Quran pada 2011 – 2012, serta proyek laboratorium komputer untuk madrasah tsanawiyah 2010 di Kementrian Agama.
Logikanya, Jika Kementrian Agama yang mengurusi kegamaan di Indonesia saja melakukan korupsi, bagaimana dengan Kementrian yang selain agama. Tentu, pasti akan lebih parah lagi.
Pertanyaannya kenapa orang yang bisa dikatakan paham agama melakukan kegiatan yang dilarang agama berupa korupsi? Pertanyaan kedua kenapa yang dikorupsi itu Al-Quran tidak yang lain?
Kasus korupsi memang perbuatan yang tidak terpuji. Akan tetapi lebih tidak terpuji lagi jika yang di korupsi itu kitab Tuhan berupa Al-Quran. Sesuatu yang disakralkan umat Islam dianggap sebagai lahan basah untuk memperkaya diri, serta mencari uang sebanyak-banyaknya.
Masyarakat awam pasti terheran dan menganggap tersangka sudah “GILA” atas perbuatan yang dilakukan tersangka dengan mempermainkan agama sebagai lahan korupsi. Perbuatan ini sungguh diluar batas kewajaran. Tersangka bisa dikatakan orang tidak bermoral, meskipun dia secara keilmuan mencapai gelar yang tinggi secara akademis maupun keagamaan.
Meniru bahasanya Ibnu Djarir, ketinggian keilmuan akademik/keagamaan tidak selalu pararel dengan kebaikan moral dan akhlak seseorang. Karena akhlak itu terbentuk seperti iman, bisa bertambah juga bisa berkurang.
Bagi orang berpendidikan, perbuatan ini merupakan perbuatan demoralisasi yang dilakukan oknum di Kementrian Agama guna merusak citra di Kemenag. Dia tidak memikirkan efek jangka panjang yang di terima Kemenag dalam menghadapi kasus ini.
Yang seharusnya dibangun Kemenag yaitu mengembalikan citra lembaga agar menjadi baik di mata masyarakat Indonesia. Kemenag seharusnya juga sebagai contoh baik bagi lembaga di kementrian yang lain. Bukan malah memberi contoh jelek dengan melakukan kasus korupsi tersebut.
Jikalau yang terjadi sudah seperti ini, maka jalan bagi Kemenag yang  paling penting yaitu mengembalikan citra baik kepada masyarakat luas. Karena instansi sudah telanjur tercemar buruk.
Kemenag harus membuka diri dengan memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat, serta direspon dengan cepat dan transparan. Semoga!
*Staf Humas IAIN Walisongo Semarang, Litbang SKM Amanat.

Selasa, 10 Juli 2012

DUGDERAN, TRADISI SEMARANG


Oleh: Akhmad Shoim*
Dugderan merupakan tradisi serta identitas warga Semarang. Dugderan atau istilah lainnya Megengan merupakan kegiatan rutin tahunan menyambut Ramadan yang harus di lestarikan pemerintah Semarang. Masyarakat sudah seharusnya melestarikan tradisi ini, karena kegiatan ini turun-temurun dari zaman dahulu.
Menurut Antropolog Undip, Prof Dr Mudjahirin Thohir MA menuliskan, Dugderan atau Megengan merupakan tradisi menjelang puasa. Puasa dipahami orang Jawa sebagai bulan suci, ibadah yang menuai keistimewaan dengan segala ibadah yang dilakukan akan dilipatgandakan, selain itu bagi yang telah meninggal puasa merupakan waktu untuk bebas dari siksaan.
Dalam pandangan Islam Jawa, pada bulan Sura menjelang puasa, mereka melakukan rangkaian nyadran, bersih kubur, kirim doa, juga dugderan. Hal ini dilakukan untuk mengirim doa kepada leluhur yang telah meninggal, serta menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah dan pahala.
Dugderan diambil dari kata Dug, yang mengisyaratkan bunyi tabuhan bedug. Dan Der berasal dari suara dentuman meriam yang berbunyi Der. Sehingga kata ini digunakan dengan nama dugderan.
Dugderan muncul sebagai sarana publikasi datangnya bulan puasa serta perintah menunaikan ibadah puasa. Praktiknya dengan menabuh bedug dan mengundang warga Semarang. Sehingga berkembang dengan kegiatan karnaval atau arak-arakan, munculnya banyak pedagang dengan barang dagangannya.
Perkembangan Megengan juga tampak dengan warak ngendog.  Warak berasal dari bahasa 'tarikat' yaitu dari kata wirai yang berarti kesiapan lahir batin menuju ibadah dalam hal ini ibadah puasa. Untuk kata endog atau telur diasosiasikan dikeluarkan oleh binatang, yang menyimbolkan berkah.
Penertiban
Pelaksanaan dugderan terjadi di beberapa tempat, di sekitar pasar Johar dan sekitar Masjid Agung Jawa Tengah, juga di Jalan Kyai Haji Agus Salim, Jalan Pedamaran dan Jalan Pemuda. Pelaksanaan dugderan sering kali menuai kritik. Para pedagang banyak yang sulit ditata, kemacetan lalu lintas, rawan pencurian, dan yang lainnya.
Pemerintah kota Semarang diharapkan menata para pedagang supaya tertib dan tidak berjualan di tengah jalan, sehingga mengganggu lalu lintas dan para penggguna jalan raya.
Selain itu, para pedagang diharapkan menjaga fungsi estetika sarana lain di lokasi dugderan. Peran serta semua instansi lain juga penting agar tidak terjadi kesemrawutan dan tidak tertata dengan baik.
Dalam menjaga keamanan dugderan, supaya terhindar dari kejahatan dan tindakan kriminal, Peran Satpol Pamong Praja, Polisi, dan TNI sangat penting supaya turut mengatur dan menjaga keamanan dugderan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites