Selamat Datang di Situs akhmadshoim.blogspot.com Cp. 082323989890 e-mail: soimah49@gmail.com

Minggu, 08 Juli 2012

Impor Makna


PARODI Prie GS

Ini negeri yang selalu terlibat. Negeri lain yang krisis, kita yang terkena imbasnya. Orang lain yang berprestasi, kita cukup yang mengagumi. Pihak lain punya tradisi menjadi pihak yang bermain, kita membangun tradisi menggelar nonton bareng. Kita boleh tidak terlibat di Piala Eropa, tetapi jangan kurang akal, undang saja bintangnya datang ke Jakarta. Kita tak perlu lolos di Piala Dunia, tetapi undang saja bintangnya ke sini, untuk main iklan produk minuman berenergi.
Di Jakarta, para bintang itu diadu dengan para bintang kita. Seluruh bintang kita berkumpul menjadi satu dan menahan imbang mereka 1-1. Skor yang tidak buruk. Tetapi siapa peduli tentang skor? Karena jauh melesak di alam bawah sadar sana, telah berkembang bermacam-macam imajinasi atas skor ini.
Bisa saja kualitas pemain kita memang benar-benar bintang sehingga sanggup menahan bintang. Itu skenario pertama. Bisa juga karena pihak lawan tak enak hati. Itu skenario kedua. Maka skor 1-1 adalah skor tersopan dari sebuah pertandingan senang-senang.
Karena itulah memang tujuannya: bersenang-senang. Maka, semuanya harus senang. Jadi skor itu sama sekali bukan isu terpenting. Terpenting dari semua itu adalah kehadiran primadona Piala Eropa, Cesc Fabregas. Seluruh kebintangan kita hanyalah anak tangga bagi kebintangan pihak lain yang sedang ditunggu-tunggu. Maka mengelu-elukan sang bintang jauh lebih penting ketimbang mengevaluasi pertandingan.
Maka skor satu-satu itu, walau bukan skor yang buruk, tetapi bukan skor yang menggembirakan. Bukan tak gembira karena kita tidak bisa  membuat gol lebih banyak, melainkan karena kita tak membutuhkan kemenangan itu. Bisa karena hal itu nyaris tidak mungkin, bisa juga karena bukan soal itu yang ditargetkan. Target kita saat ini adalah sedang ingin menjadi pengagum pihak-pihak yang mengagumkan. Kita adalah masyarakat yang sedang kehilangan kekaguman di dalam kehidupannya sendiri. Setiap membuka lembaran koran, rasanya kita hanya bertemu kasus korupsi.
Korupsi itu malah merajalela sedemikian rupa sampai sulit lagi mencari padanan kata untuk menyebutnya. Ketika beras miskin saja dikorup, kita pernah menyebutnya sebagai luar biasa. Tapi rekor ini gugur dengan cepat karena pengadaan kain kafan juga dikorupsi. Kini kain kafan saja tak cukup, tetapi sudah merambah ke pengadaan Kitab Suci. Kalau tuduhan ini benar, rasanya kehadiran KPK saja tak cukup. Rasanya Tuhan sendiri yang harus turun tangan untuk menghentikan pihak yang telah mustahil dinasihati.
Di tengah iklim semacam itulah krisis makna akan bergerak menjadi wabah. Hidup tanpa makna adalah kegalauan besar sebuah bangsa.
Akhirnya, naluri mencari makna itu akan menerobos kalau perlu melewati batas-batas negara. Adalah aneh, negeri yang ramai mengampanyekan makna di berbagai mimbar khotbah ini, adalah negeri yang diam-diam mengalami krisis makna. Karenanya, ketika korupsi makin bereskalasi dari kain kafan ke Kitab Suci, tradisi impor juga bergerak serupa, kita tak cuma cukup impor garam, gula dan beras, tetapi juga harus impor nilai dan makna. (62) Suara Merdeka, 08 Juli 2012 


0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites