Selamat Datang di Situs akhmadshoim.blogspot.com Cp. 082323989890 e-mail: soimah49@gmail.com

Senin, 09 Juli 2012

Ada Apa dengan Setan?


Cerpen Amilia Indriyanti, Alumni SKM AMANAT IAIN Walisongo
 DAN semua bermula dari cinta. Semua pun berakhir dengan cinta. Cinta adalah permulaan yang indah. Mengusung pertemuan dan rasa cemburu. Kelak kita semua merasakan. Dengan siapa dan di mana hal itu tidak perlu dipertanyakan. Mempertanyakan berarti mengukuhkan kebodohan-kebodohan, sedangkan kita adalah pembawa-pembawa risalah. Cinta selalu diawali dengan pertemuan. Sebuah danau berair hijau kebiruan telah mempertemukan kita. Dalam belenggu rindu dan kalut yang utuh: tempat kuharapkan anak-anakku kelak akan dikandung, dilahirkan, oleh kau sebagai istriku. Dari atas sebuah sampan yang merangsek perlahan ke tengah danau, kutulis puisi untuk kekasih. Tentang keindahan pertemuan. Pertemuan yang alpa untuk dijadikan sebuah janji. Mungkin karena enggan mengangankan sebelumnya. Sering angan membuat majikannya menjadi pesakitan. Sementara, hal itu tidak perlu terjadi.
***
MEI, Kamis pukul 11.13. Kuciptakan sebuah pertemuan di antara kita. Di tepi sebuah danau yang berair hijau kebiruan. Tempat pertama kali kau membuatku terpaku dan berlanjut dengan bertukar kartu nama.Di bawah cemara, ketika angin berembus membawa kabar hari mulai petang, di telingamu kubisikkan: Dik, kita tidak usah pulang malam ini.”Kenapa?” ujarmu penuh tanya. Kedua pipimu merona merah.Kupandang wajahmu dengan sorot mata terlembut yang aku punya. Kupu-kupu saja cemburu melihat cara memandangku kepadamu, sehingga ia memilih terbang melewati wajahku dan aku berkedip. Kemudian kujawab pertanyaanmu.”Karena ingin kupetik buah khuldi di dadamu.”"Jangan!” kau memekik tertahan.”Kau ingin kita bertemu, bukan karena kau rindu? Tapi karena kau ingin aku menjadi Hawa yang membuat Adam terlempar ke bumi.”"Bukankah karena Hawa dan Adam terlempar ke bumi yang menyebabkan surga menjadi lebih berarti dan lebih indah?”"Iya, kau benar. Tetapi aku tidak mau mengambil risiko untuk menjadi orang yang terlempar.”"Kita tidak akan terlempar, tetapi ditempatkan. Kita saling mencinta. Pencipta cinta pasti merestui kita.”"Ya, kau benar. Kita tercipta dari cinta. Kita musnah juga karena cinta. Dan aku tidak ingin gara-gara cinta bumi menjadi ajang perang.”"Oh, Sayang, tidak mungkin cinta menjadi alasan sebuah pertikaian.”"Yah, Sayang! Bagaimana tidak mungkin? Kan bisa saja semua wanita yang melihatmu, mencemburuiku, karena kemesraan yang kauberikan kepadaku.”"Ya, Sayang, kau benar. Dan semua laki-laki pasti akan iri padaku, karena kekasih-kekasih mereka akan memutusnya, karena merasa cinta yang diberikan sangatlah kurang.”Semua makhluk cemburu melihat betapa mesranya kita sore itu. Danau yang berair hijau kebiruan sampai menangis karena iri. Ia sangat menyesal, kenapa mesti melihat adegan semesra ini. Ia pun berterima kasih kepada senja, sebab senja terus mengetuk-ngetuk kaki kita supaya cepat pergi menjauhinya.Ingin sekali aku mengubahmu menjadi Hawa yang rela merayu dan merengek kepada Adam untuk memetik buah khuldi. Kenyataannya kau bukan Hawa dan terpaksa aku mengukuhkan keinginanku untuk mencicipi buah khuldi itu. Kata banyak orang, buah khuldi adalah buah terlezat yang pernah ada. Sekarang aku baru bisa memafhumi mengapa sampai ada hikayat Siti Zubaidah, Layla-Majnun, Zulaikha-Yusuf, Yatim Asmara, Seribu Satu Malam. Legenda orang-orang yang sedang jatuh cinta. Perempuan dan pria penguasa semesta lamunan karena hati-hati mereka terbentuk oleh cinta.
***
FEBRUARI, pukul 13.12. Dering telepon memecah suasana siang.”Halo…” sungguh mesra suara itu.Memutuskan sebuah pertemuan tidak sesulit yang pernah kuduga. Suara itu suaramu. Kau ingin kita bertemu dan aku setuju. “Aku rindu,” katamu singkat memberi alasan. Mungkin karena kekuatan “suara mesra”-mu yang membuatku cepat membuat keputusan. Segera aku menemuimu di tempat yang telah kita tentukan.Dan kita bertemu di tepi danau yang berair hijau kebiruan, danau terindah. Tempat itu akhirnya bisa kita jangkau kurang dari satu jam. Einstein benar, imajinasi sering lebih penting dari ilmu pasti. Dalam perjalanan kubuat banyak daftar rencana. Bukan karena logikaku yang hebat tapi karena khayalku yang ingin menyelamatkan pertemuan kita. Sebelumnya kita pernah bertemu dan gagal. Setelah sembilan bulan kita tak pernah berjumpa. Ragamu tidak ada perubahan yang mencolok. Masih seperti dulu. Tetapi danau ini sudah banyak berubah. Airnya tidak bening lagi seperti dulu, tetapi agak keruh.Kau sudah menungguku. Duduk di antara bunga melati dan anyelir. Aku menghampirimu. Seperti menahan rindu yang terlalu. Sinar matamu bersinar mengikuti gerak tubuhku yang mendekatimu. Ada kelembutan di sana.
***
MENGHABISKAN waktu bersama, membuat kita tidak menyadari gelap yang sehelai demi sehelai membawa dingin menggiring langkah malam. Beberapa bunga melati bersiap mekar dengan kesaksian kita. Kita selalu tersenyum melihat tingkahnya. Dan tiba-tiba kau memintaku menghisap kokain di bibirmu. Bibir yang ranum. Aku tak pernah menyangka kau bisa seberani itu.”Apa?”"Kau bergurau, Sayang. Kita tahu itu mengandung candu.”"Ayo, isaplah untukku. Rinduku akan kuhabiskan petang ini.”"Tidak. Di bibirmu tidak ada kokain.”"Masa?”"Iya! Sadarlah, Sayang. Jangan suruh aku menjadi Romeo yang mati karena racun yang ditawarkan Juliet.”"Dan mereka bahagia.”"Aku tidak pernah tahu mereka bahagia atau tidak setelah mati.”"Kalau begitu, sekarang petiklah buah khuldi di dadaku saja, habisilah rinduku.”"Oh!”"Dulu kau pernah memintanya dan tidak aku berikan. Sekarang ambillah.”"Sayang, buah khuldi itu sudah tidak ada lagi di sana.”"Kau berbohong ya….,” kau merengek persis seperti Hawa yang aku inginkan sembilan bulan lalu. Keinginan itu sudah aku timbun. Sekarang aku hanya ingin menatapmu, tanpa berupaya dan tanpa berbuat apa-apa pada tubuhmu. Cintaku suci. Untuk menghindari hal-hal yang diinginkan akhirnya aku mengajakmu pulang. “Sebaiknya sekarang kita pulang, di sini sangat sepi, hanya tinggal kita bertiga.”"Hanya berdua.”"Bertiga. Yang ketiga setan.”"Ada apa dengan setan? Jangan pernah berpikir mencari kambing hitam untuk menolakku.”"Aku hanya ingin menjagamu, Sayang.”"Menjaga? Kata itu telah kehilangan makna. Kau bilang mau menjagaku, bagaimana mungkin? Kau toh seorang yang tidak bertanggung jawab.”"Aku tidak bertanggung jawab? Petang ini kau aneh sekali, Sayang.”"Kau juga aneh. Mengaku bertanggung jawab, tetapi tidak berani berbuat. Terus bagaimana bentuk tanggung jawabmu?”"Maksudmu?”"Tidak akan pernah ada neraka kalau Adam tetap berada di surga. Dan nur Muhammad yang bahkan dibuat jauh sebelum Adam juga tidak akan pernah menjadi sesosok idola. Adam berani berbuat untuk Hawa. Dan dia telah menunjukkan tanggung jawabnya. Karena itu dia dipercaya menjadi nabi. Bahkan dianggap sebagai orang suci.”“Sedang kita tidak akan menjadi apa pun, siapa pun, kalau tidak mau berbuat apa-apa, hanya karena takut dosa. Dosa itu pencarian. Dosa itu bukan awal juga bukan akhir. Tidak apa-apa setan menemani kita malam ini. Bukankah setan sekarang sudah menjadi kambing hitam yang paling layak? Lagi pula manusia lebih suka memilih untuk lemah sehingga merasa sah untuk mereguk kenikmatan godaan dan senang disesatkan.”"Tidak. Kau salah, Sayang, aku tidak mencari alasan untuk menolakmu. Aku mencintaimu. Dan aku ingin kau menjadi Zulaikha yang seluruh tubuhnya bergelimang cinta. Pada saat yang tepat aku akan mengisap kokain dan mengambil buah khuldi yang kautawarkan yang dulu pernah aku minta.”"Pada saat aku sudah tidak menginginkannya? Kau mengelak dari cintaiku. Kau tidak ingin aku bahagia, mesti sebentar.”"Oh, bukan itu maksudku, Sayang.”"Kalau kau ingin aku jadi Zulaikha, lebih baik kau menjadi Majnun saja. Dan kita tidak akan pernah bertemu, biarkan rinduku membatu.”
***
KARENA cinta tidak lebih dari sepotong kabut yang kadang hitam kadang putih, tidak aku turuti hasratku untuk mendekapmu, hasratmu untuk kudekap. Karena cintaku padamu sungguh terlalu, kubiarkan setetes demi setetes air hujan dari matamu membanjiri pipi. Tidak akan kubiarkan Tuhan cemburu melihat kemesraan kita dan akhirnya mengirim kutukan. Meskipun mati-matian aku mempertahankan diri, kalau saja aku punya hak atas tubuhku aku sudah bunuh diri di hadapanmu untuk membuktikan betapa aku mencintaimu. Semua keputusan memang ada konsekuensinya.”Kau tahu, Sayang, untuk tidak memenuhi keinginanmu (juga keinginanku) aku harus berlapar-lapar puasa, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kau yang telah mengajariku tentang ‘bertahan’ setelah kita bertemu bulan Mei tahun kemarin.”"Untuk apa kau lakukan itu, sedangkan aku tidak tahu apakah besok kita masih bisa bertemu?”"Kenapa? Kita akan mengikatkan diri dalam pernikahan.”"Pernikahan? Kalau esok hari aku harus menikah dengan orang lain, bukan dirimu? Mungkin aku sudah menolak, tetapi ternyata aku harus menerimanya. Aku tidak bisa melakukan apa pun seperti yang kuinginkan, makanya aku besok harus bersedia dinikahkan dengannya.”Kau menangis. Terisak-isak. Mendekap wajahmu dengan kedua tangan. Aku sangat paham. Aku telah memerawani hatimu dan kau ingin aku memerawani tubuhmu juga. Aku tidak mau melakukan bukan karena aku tidak ingin. Sesungguhnya tidak ada yang lebih benar, ketika hasrat nafsu tersalurkan antara dua manusia yang belum menikah. Tidak lelaki tidak juga perempuan keduanya benar. Keduanya salah. Kalau salah satunya lebih kuat, dosa itu tidak akan ternikmati. Dan aku laki-laki harus lebih kuat, karena aku adalah calon pemimpin, setidaknya bagi keluargaku nanti.”Oh, sudahlah, kalau memang kita tidak dapat bersama di dunia, kita bisa bersama di surga nanti.”Tenggorokanku tersekat tidak bisa berkata. Akhirnya keluar juga kalimat yang selalu menjadi pelegal sebuah perpisahan untuk kasih tak sampai. Tiba-tiba kau menatapku tajam. Air mukamu memukauku dengan senyum. Itu sebuah cibiran dan kau berkata, “Kau masih ingin bertemu denganku setelah kita mati nanti?”"Ya, Sayang, aku begitu mencintaimu. Dunia dan akhirat.”"Kalau begitu maafkan aku.”"Kau telah menyiksaku dengan sakit rindu, menolak untuk menyembuhkannya, kemudian aku harus menerima orang yang tidak aku cintai. Kau menolak kutuk, tapi kauciptakan kutuk untukku, bahkan sebelum aku merasa bahagia. Di surga aku tidak ingin bertemu denganmu.”"Di dunia aku banyak bertemu dengan orang-orang menyebalkan, masa di surga pun aku harus ketemu denganmu lagi, orang yang menganggap diri penuh cinta, kenyataannya tanpa cinta.”Diam, lengang, air danau yang sudah tidak bening lagi berubah menjadi danau air mata karena ia menangis. Ia bahagia karena tidak ada lagi kemesraan dari kita yang dapat membuatnya iri. Diakui atau tidak kita sedang bertengkar. Bahkan semua makhluk pun terasa mencemooh kebodohanku, yang tidak bisa mempertahankan kemesraan cinta, kemesraan yang dapat membuat siapa pun atau apa pun cemburu.Kau berdiri. Tubuhmu meliuk sebentar, menyibakkan rambut yang menutupi separo wajahmu ke punggung. Kau membuatku terkesima, entah sudah berapa ribu kali senja ini kau membuatku terpedaya. Lenganmu kau ulurkan untuk menjabat tanganku. Akhirnya aku berdiri, kita sama-sama tersenyum. Setelah itu kau berkata, “Aku tidak ingin bertemu denganmu di surga nanti.”"Kenapa kita bisa memuaskan cinta dan rindu di sana?”"Hidup sekali, mati sekali. Jatuh cinta boleh berkali-kali, sedangkan cinta sejati hanya terjadi sekali. Aku mencintaimu saat ini. Bukan harga mati. Tetapi merupakan proses. Ini hanya arena berlatih. Lagi pula cinta pertama adalah kenangan dan cinta terakhir adalah masa depan. Aku tidak akan mengorbankan diri demi sebuah kenangan. Mungkin perlu kamu tahu sebelum aku jatuh cinta padamu, aku tidak tahu siapa yang paling layak aku cintai. Tetapi sekarang aku tahu dan rasanya sekarang aku sedang mabuk cinta kepada-Nya. Hatiku bergetar. Kau tahu Rumi, Balkis, Majnun, Siti Khatidjah? Mereka bisa tahu cinta sejatinya, setelah merasakan jatuh cinta. Rumi jatuh cinta dengan Tabris. Balkis dengan Sulaiman. Majnun dengan Layla. Siti Khatidjah dengan Muhammad.”"Aku minta maaf, mungkin aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Aku pikir setelah di surga nanti, aku akan berjumpa dengan Yusuf dan Muhammad. Pada saat itu apakah aku masih bisa mengingatmu. Apalagi kalau Tuhan melumatku dengan cinta. Aku yakin, benar-benar yakin, pada saat itu, jangankan bertemu denganmu, mengingatmu saja aku tidak mau. Lagi pula aku ingin ada peningkatan dalam hidupku. Masa jauh-jauh di surga yang kutemui hanya kau. Tidak usah di surga pun aku bisa ketemu denganmu. Yang jelas, di sana aku tidak mungkin mau menemui orang-orang menyebalkan macam kau. Di surga aku hanya ingin ketemu dengan kekasihku, Tuhanku, dan akan kuhabiskan cintaku di sana. Sepuasku. Titik.””Dadah… Selamat tinggal.”Hah!!!
Dimuat di Suara Merdeka, 2002.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites